Penyebab Keluarga Stress Setelah Lebaran
THR adalah alat finansial, bukan dana konsumsi. Tunjangan Hari Raya atau THR adalah sejumlah uang yang diberikan oleh perusahaan menjelang hari raya. Umumnya, THR sebesar satu kali penghasilan untuk kebutuhan perayaan hari raya.
Di momen ini, THR seperti bonus upah bekerja dan dapat menikmati momen lebaran dengan khidmat. Realitanya, banyak keluarga profesional mengalami tekanan keuangan setelah Lebaran. Tekanan finansial terjadi bukan karena THR kecil, tetapi karena pengelolaannya tidak terstruktur.
Menurut berbagai survei keuangan keluarga di Indonesia, pengeluaran saat Lebaran bisa meningkat signifikan dibanding bulan biasa, terutama untuk mudik, konsumsi, dan kebutuhan sosial.
Tanpa perencanaan, lonjakan ini langsung menekan arus kas setelah Lebaran. Pakar keuangan keluarga menekankan bahwa kesalahan paling umum dalam mengelola THR adalah memperlakukannya sebagai “uang tambahan”, bukan bagian dari perencanaan tahunan. Akibatnya, THR habis sebelum kebutuhan rutin kembali berjalan normal.
Umumnya, penyebab umum tekanan finansial pasca-Lebaran:
- Pengeluaran tanpa batas jelas
Adanya pengeluaran tanpa budget sesuai dengan situasi membuat THR terkuras, tabungan pun terpakai.
- Tidak memisahkan kebutuhan dan gaya hidup
Kebutuhan konsumsi lebadan dan biaya mudik sering tercampur dengan pembelian impulsif dengan alasan “setahun sekali beli”.
- Tabungan diambil untuk menutup pengeluaran
Saat THR tidak cukup untuk kebutuhan di hari raya, dana darurat pun seringkali terpakai tanpa rencana pengembalian.
- Cenderung belanja tanpa memikirkan dampaknya
THR habis dan tabungan terpakai untuk belanja, sementara cicilan, sekolah, dan kebutuhan rutin tetap berjalan.
Adanya budaya memberi hampers atau bingkisan hari raya seringkali membuat seseorang memberi atau berbagi melebihi kapasitas finansial demi menjaga relasi.
Prinsip 3S dalam Mengelola THR
THR bukan sebagai “uang tambahan”, tetapi sebagai variabel risiko musiman dalam arus kas keluarga. Framework 3S digunakan untuk mengendalikan risiko, bukan sekadar mengatur pengeluaran. Pendekatan sederhana namun efektif agar THR tidak hanya habis untuk perayaan, tetapi juga menjaga stabilitas keluarga setelahnya.
- Spending = Kebutuhan Esensial
- Saving = Perlindungan Setelah Lebaran
- Sharing = Berbagi Dengan Kesadaran Finansial
Spending
Spending bertujuan mengendalikan risiko emosional saat Lebaran dengan batas yang jelas. Dalam praktik CFP, total pengeluaran Lebaran sebaiknya dibatasi 40–50% dari THR; jika melebihi itu, Anda berisiko over-extension. Spending tidak boleh mengganggu cicilan, biaya sekolah, atau kebutuhan rutin dan bila ragu, turunkan batas ke ≤40%.
Saving
Saving berfungsi mengendalikan risiko finansial setelah Lebaran dengan menyisihkan minimal 20–30% THR. Prioritaskan dana darurat (hingga 3–6 kali pengeluaran bulanan), buffer arus kas pasca-Lebaran, lalu tabungan tujuan menengah seperti pendidikan dan kesehatan.
Sharing
Sharing bertujuan mengendalikan risiko moral dan relasional dengan batas yang sehat. Dalam praktik CFP, alokasi berbagi disarankan 5–10% dari THR dan tidak diambil dari porsi saving; jika berbagi mengganggu cicilan atau membuat saving menjadi nol, itu bukan kedermawanan melainkan financial leakage. Prinsipnya, berbagi yang berkelanjutan lebih sehat daripada berbagi besar lalu stres setelahnya.
Panduan Alokasi THR ala Pijar
Sebagai referensi alokasi THR agar dapat produktif dapat menggunakan metode berikut.
| Alokasi |
Rasio Aman |
Tujuan Utama |
| Spending |
40-50% |
Memenuhi kebutuhan Lebaran tanpa mengganggu arus kas |
| Saving |
20-30% |
Menjaga bantalan finansial pasca-Lebaran |
| Sharing |
5-10% |
Berbagi secara sehat dan berkelanjutan |
| Buffer |
±10% |
Ruang aman untuk kebutuhan tak terduga |
Struktur ini membantu keputusan tetap rasional, bukan emosional. Dengan batas yang jelas, THR bisa dinikmati saat Lebaran tanpa mengorbankan stabilitas setelahnya.
Kunci Alokasi THR